Ternyata Ini yang Buat Harga Cabai Mahal

Photo
Pedagang Cabai/L7COM

LINTAS7.COM – JAKARTA – Naiknya harga cabai hingga mencapai Rp180 ribu/kg di pasaran sejak tahun lalu, ternyata adalah permainan kesepakatan jahat pengepul atau supplier cabai rawit merah untuk menjual cabai hasil panen petani ke perusahaan-perusahaan pengguna cabai tersebut.

Hal itu diungkap oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri bersama Kementerian Pertanian dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

BACA JUGA:

Kasubdit Industri dan Perdagangan (Indag) Ditektorat II Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri, Kombes Pol Hengki Hariyadi mengatakan, seharusnya cabai hasil penen petani dari sejumlah sentra di Solo dan Jawa Timur itu didistribusikan ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

“Kami temukan fenomena cabai ini yang seharusnya dikirim ke Pasar Induk Kramat Jati untuk parameter harga, justru kami temukan barang itu lari dan dibelokkan ke beberapa perusahaan dengan harga tinggi. Setelah diperiksa dimulai Desember tahun lalu, ternyata cocok,” ungkap Hengki, Jumat (03/03/17).

Mengenai harga yang disepakati para pengepul terbilang fantastis. Jika harga cabai rawit merah dari petani hanya Rp10 ribu/kg, justru dipatok dan dijual oleh para pengepul tersebut ke perusahaan hingga Rp181 ribu.

“Hasil penelusuran, biasanya untuk pengiriman 50 ton cabai rawit merah dari satu sentra penghasil cabai ke Pasar Induk Kramat Jati, justru sebanyak 80 persennya dijual ke perusahaan-perusahaan pengguna cabai tersebut,”

Modus lainnya yang gunakan para pengepul kata Hengki, dengan sistem penjualan konsinyasi. Di mana, para pengepul dan petani melakukan kesepakatan menjual cabai hasilnya panennya dengan harga tinggi, semisal Rp70 ribu/kg langsung ke pedagang besar.

“Orangnya (pelakunya) sama, itu-itu saja. Ini dugaan kami sehingga harga cabai rawit merah menjadi tinggi,” jelasnya.

Dari hasil penyidikan, dua pengepul yakni SJN dan SNO sudah ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan.

Ia menambahkan, bila sesuai Permendag Nomor 63/2016, seharusnya harga tertinggi cabai rawit merah di tingkat konsumen hanya sebesar Rp 29 ribu/kg.

Dan, meskipun ada petani yang melepas cabainya dengan harga Rp70 ribu/kg ke Pasar Induk, maka harga komoditi tersebut tidak sampai mencapai harga Rp120 hingga Rp160 ribu/kg di konsumen. Seharusnya dari contoh kalkulasi tersebut, seharusnya harga cabai rawit merah di konsumen hanya Rp100 ribu/kg.

“(Dugaan kesepakatan jahat soal harga) ini yang kami lihat dan dalami. Karena ada juga fakta agen dan pedagang mendapatkan harga yang sama dari pedagang besar,” pungkasnya.(*)

Sumber: Tribunnews.com

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR