Tantangan Indonesia Menghadapi Pluralisme

konflik
Konflik di Timur Tengah/istimewa

LINTAS7.COM – JAKARTA – Tantangan umat Islam, khususnya umat Islam Indonesia di era sekarang adalah kenyataan akan keragaman yang dalam banyak hal sangat rawan akan potensi konflik bahwa setiap perbedaan selalu mengandung potensi konflik. Namun demikian tidak setiap konflik yang lahir karena perbedaan tidak harus berakhir pada gesekan sosial.

Bagaiamanapun perbedaaan adalah satu hal yang niscaya dalam kehidupan manusia, hampir mustahil bisa menghindar atau sekedar menafikan perbedaan dan bagaimana perbedaan tersebut dikelola? itulah yang menjadi tantangan terberat bangsa ini.

BACA JUGA : Diplomat Indonesia Korban Meninggal Kebakaran di KBRI Roma

Bangsa-bangsa yang telah berhasil mengelola perbedaan sehingga tidak berujung pada konflik umumnya akan tumbuh menjadi bangsa yang maju, baik dari segi ekonomi, politik maupun sosial-budayanya. Sebaliknya, bangsa yang gagal mengelola perbedaan akan berlubang dengan konflik sosial berkepanjangan yang menguras energi.

Dalam konteks Indonesia dewasa, perbedaan sebagai sumber konflik agaknya tidak lagi diragukan. Belum hilang dalam ingatan bagaimana bangsa ini sempat dikoyak oleh serangkaian konflik sosial berdarah yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Sebut saja misalnya konflik ambon dan Poso sebagai dua yang paling memilukan ribuan nyawa melayang, harta benda musnah tiada tersisa, belum lagi sejumlah besar orang yang dipaksa pergi dari tanah tempat ia tinggal. Kesemuanya merupakan hadiah pahit dan tidak ada yang bisa dipetik dari gesekan sosial selain penderitaan konflik sosial berkepanjangan yang menyebabkan bangsa ini terus terpuruk dalam keterbelakangan.

Selain suku dan ras, isu agama menjadi isu yang paling sering muncul dalam konflik-konflik sosial yang terjadi di Indonesia. Meski pada kenyataannya,  kepentingan ekonomi dan politik selalu tidak pernah alpa menjadi katalisator pecahnya konflik sosial namun isu agama menjadi satu-satunya pembenaran paling populer bagi para pelaku di dalamnya, seolah-olah pembenaran yang mengatasnamakan agama akan membuat konflik menjadi sahih dan kemadaratan.

Meski demikian, tidak juga bisa dipungkiri bahwa agama nyatanya memang memiliki dua sisi yang nampak berlawanan. Di satu sisi agama bisa dijadikan sumber cinta kasih di muka bumi, di sisi yang lain agama juga kerap memicu lahirnya konflik sosial berdarah.

Setidaknya jika hal itu dilihat dari dua kelompok terlibat di dalamnya yang yakni kelompok Islam di satu pihak dan kelompok Kristen di pihak lain Kiranya konflik sosial yang melanda sejumlah wilayah Indonesia lebih dari satu dasawarsa yang lalu tersebut cukup menjadi catatan kelam bagi sejarah perjalanan bangsa ini, cukuplah hal itu menjadi cerita masa lalu yang tidak akan pernah terulang lagi.

Sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia seharusnya memiliki kecapakan dalam mengelola perbedaan dan menjadikannya sebagai kekuatan untuk membangun, bukan sebaliknya justru menjadi hambatan. Meski konflik sosial berlatarbelakang agama dalam skala yang besar dan masih relatif sepi dari bumi Indonesia belakangan ini, namun itu tidak berarti bahwa Indonesia telah sepenuhnya lepas dari persoalan yang diakibatkan adanya perbedaan agama.

Bahkan konflik sosial berlatarbelakang agama kini berkembang tidak hanya berkonotasi pada gesekan antara dua agama yang berbeda namun juga kelompok seagama yang memiliki pandangan berbeda.

Contohnya bisa dilihat dari kasus penyerangan Jamaah Ahmadiyah Indonesia di beberapa tempat,  pengusiran paksa warga penganut aliran syiah, sampai tindakan penyegelan tempat ibadah pemeluk agama tertentu oleh sekelompok orang.

Semua itu kian lengkap dengan tumbuh suburnya kelompok-kelompok radikal berkedok agama yang menebar teror kepada kelompok yang dianggap “berbeda” dengan mereka.

Sejumlah kejadian memilukan itu adalah setumpuk bukti bahwa masih terdapat residu persoalan yang ditimbulkan dari adanya keragaman, terutama dalam konteks beragama di Indonesia. Negara yang dalam konteks ini sangat dibutuhkan kehadirannya justru sering kali mangkir, dalam banyak kasus kekerasan atas nama agama.

Nampak sangat jelas negara tidak menunjukkan kemauan untuk menegakkan hukum dengan menindak para pelaku, bahkan sebaliknya negara sering kali melakukan pembiaran bahkan memberikan perlindungan bagi para aktor di balik kekerasan tersebut. Merujuk pada fakta yang sangat ironis tersebut,  mengharapkan lahirnya harmoni dalam kehidupan bangsa Indonesia yang plural ini nampaknya hanya akan berujung pada kekecewaan.

Untuk itu perlu adanya gerakan sosial dalam membumikan sikap hidup saling menghargai menghormati, mengenal dan bekerjasama antarkelompok masyarakat yang dimulai dari bawah dalam konteks inilah wacana mengenai pluralisme sangat diperlukan untuk menjembatani keragaman yang rawan konflik.

Dan di hari Jum’at ini 25 Desember 2015. Saya mengucapkan selamat hari Natal yang kesekian kalinya semoga Umat Kristiani di Natal yang bahagia ini dapat berjalan lancar dan kondusif.(*)

Penulis : Muhammad Faqih selaku Presiden Koalisi Mahasiswa Uin (KMU) dan Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Cabang Ciputat.

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR