Pertemuan SBY dengan Megawati Bawa Angin Sejuk Dunia Politik

Photo
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)/Istimewa

LINTAS7.COM– Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) serta Presiden ke-5 Megawati Soekarnputri terlihat bersama dan bersalama dalam upacara kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 tahun di Istana Merdeka, Jakarta.

Momen pertemuan serta salaman antara SBY dan Megawati merupakan pertama kalinya terjadi setelah sepuluh tahun lebih.

Seperti diketahui, Pasca SBY keluar dari kabinet pemerintahan Megawati sebagai Menkopolhukam, mendirikan Partai Demokarat lalu bertarung di Pemilu Presiden 2004.

Mereka berdua tidak pernah terlihat bersama atau bertegur sapa. Bahkan, semenjak 10 tahun SBY menjabat sebagai presiden, Megawati tidak pernah terlihat dalam acara kenegaraan sebagai mantan presiden, begitu juga dengan SBY dan barulah ditahun ketiga Jokowi menjabat sebagai presiden, SBY menyempatkan hadir dalam acara kenegaraan dan berdampingan dengan Megawati.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang hadir diacara itu pun mengaku sangat senang dan terharu. JK juga yakin, pertemuan antara seluruh presiden era pemerintahan sebelumnya akan memberikan angin sejuk bagi suhu politik di tanah air.

“Tentu ini kan kita berbicara tentang persatuan kita bahwa kita berbeda-berbeda secara politik tapi secara tujuan, ideologi negara tetap kita satu,” ujar JK di gedung Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (18/08/17).

Bukan itu saja, ia juga menilai pertemuan antara SBY dan Megawati merupakan bentuk ideologi yang tetap satu.

“Otomatis, politik itu selalu ada perbedaan-perbedaan cara tapi tujuan tidak,” katanya.

Senada dengan JK. Presiden PKS Sohibul Iman juga mengaku sangat bahagia melihat pertemuan antara SBY dengan Megawati di Istana negara, kemarin.

Ia berharap, pertemuan antara dua tokoh yang ditahun-tahun lalu dianggap sedang ‘perang dingin’ dan kerap ‘kucing-kucingan’ itu, menjadi titik rekonsiliasi dan wujud sikap kenegarawan antara dua tokoh itu.

“kehadiran SBY ke Istana Merdeka harus menjadi rekonsiliasi para elite partai yang selama ini kucing-kucingan alias tidak ingin bertatap muka. Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019 harus dijadikan momentum untuk memupuk semangat persatuan dan kesatuan,” ungkap Sohibul.

Dari pertemuan itu, ia juga meminta agar tidak dikait-kaitkan dengan sikap politik partai Demokrat. Pasalnya, ia menerangkan. Sikap politik dari suatu parpol merupakan hak prerogratif dari masing-masing parpol.

“Ini wujud negarawan. Rukun tidak harus berada dalam satu kubu, negarawan tetap bisa akur sekalipun berbeda kubu. Sekubu atau tidak itu persoalan pilihan politik, akur atau tidak itu persoalan kedewasaan politik,” ungkapnya kembali. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR