Pemerintah Dinilai Salah Kaprah Sebut IR64 Beras Subsidi

Beras
Pekerja lepas pedagang pasar beras/istimewa

LINTAS7.COM – Kasus penggrebekan gudang beras PT Indo Beras Unggul (PT IBU) di Bekasi telah diproses oleh pihak kepolisian untuk ditindak secara lebih lanjut.

Hanya saja, Ketua Komisi IV DPR RI Viva Yoga meminta pemerintah untuk berhati-hati mengenai validitas data serta menyebut definisi beras bersubsidi.

“Hati-hati dengan data soal akurasi dan validasinya dan hati-hati dengan definisi soal beras bersubsidi,” ucapnya di Jakarta, Senin (31/07/17).

Viva menjelaskan, beras subsidi merupakan beras milik negara yang mendapatkan subsidi output harga dari pemerintah ditujukan kepada kelompok penerima manfaat sekitar 13 juta kepala keluaga.

“Pemerintah, memberikan subsidi output sebesar Rp. 7200/ kg harga tersebut kepada kelompok penerimama manfaat sebesar Rp. 1600 / kg diberikan kepada keluarga selama satu bulan sebesar 15 kg rastra, definisinya itu,” jelasnya.

Oleh karena itu, Politikus PAN ini menilai pemerintah telah salah kaprah apabila menyebut beras IR64 yang dibeli oleh PT IBU dari petani dengan harga yang lebih mahal lalu dijual dengan kualitas premium adalah beras subsidi.

Karena hasil akhir dari padi yang di panen oleh petani bukan termasuk barang subsidi.

“Petani padi mendapatkan subsidi input berupa benih dan pupuk, asuransi , pestisida dan alat pertanian. Hasil outputnya, bukan termasuk barang subsidi. Ini penting, karena jangan sampai terjadi kriminalisasi petani yang mendapatkan subsidi input bukan hanya petani padi tetapi juga petani pala, tebu, jagung, bawa, kakau, petani holti,kalau semua dihitung bahwa produk output termasuk barang subsidi, maka semuanya harus ditangkap dong,” ungkapnya.

Untuk itu lagi, ia kembali mengingatkan agar pemerintah selalu berhati-hati memberikan keterangan mengenai subsidi.

Karena, kata Viva, menyangkut definisi itulah juga bisa menyebabkan ada tindakan hukum serta membuat takut petani untuk menjual hasil panennya dengan harga tinggi.

“Jadi menurut saya. Saya harus menjelaskan berulang-ulang persoalan menyangkut barang subsidi ini. Jangan sampai kemudian yang terjadi sekarang ini petani masih takut untuk menjual berasnya kepasar induk cipinang, karena apa, karena takut ditangkap,” ungkapnya kembali. (Eka)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR