Membangkitkan Budaya Maritim Indonesia

Bayu A Yulianto dalam bedah buku: “Budaya Identitas dan Masalah Keamanan Maritim”
Bayu A Yulianto dalam bedah buku: “Budaya Identitas dan Masalah Keamanan Maritim”

LINTAS7.com – Bogor – Forum Mahasiswa Pasca Sarjana IPB Sulawesi Selatan bersama Gelora Panrita Nusantara 12 menggelar bedah buku “Budaya, Identitas dan Masalah Keamanan Maritim”. Buku “Budaya, Identitas dan Masalah Keamanan Maritim” merupakan hasil penelitian dua orang dosen di Fakultas Manajemen Pertahanan, Universitas Pertahanan, yaitu Laksda TNI Dr. Amarulla Octavian, ST. MSc. DEED dan Bayu A. Yulianto MSi. Laporan penelitian di sekitar wilayah pesisir Ujung Kulon, Pandeglang, Banten ini kemudian dibukukan sebagai bagian dari upaya Universitas Pertahanan dalam mengembangkan pengetahuan terkait sosiologi maritim.

Diskusi ini menghadirkan Bayu A. Yulianto sebagai nara sumber yang juga salah seorang penulis buku, serta pengamat kemaritiman Ahmad Mony, yang mengupas buku ini secara kritis dan komprehensif. Dalam pembahasannya, Ahmad Mony menilai bahwa upaya Universitas Pertahanan untuk mendorong lahirnya disiplin baru dalam ilmu sosiologi di Indonesia dengan memfokuskan diri pada ranah kajian sosiologi maritim perlu diapresiasi sebagai bagian dari upaya berbagai pihak dalam memajukan peradaban maritim di Indonesia. Hal ini bisa berjalan secara paralel dengan pengembangan kajian-kajian sosiologi lainnya seperti sosiologi pesisir maupun sosiologi pulau-pulau kecil di berbagai kampus di Indonesia.

Selanjutnya Mony juga menyatakan bahwa di Indonesia relatif sedikit kelompok-kelompok identitas yang bisa disebut sebagai bangsa maritim atau bangsa pelaut, oleh karenanya, tidak mengherankan jika budaya maritim tidak mendapatkan posisi yang sepadan. Oleh sebab itu, selain pemerintah, masyarakat juga dinilai harus bisa berperan lebih luas dalam upaya membangkitkan budaya maritim Indonesia.

Selain membahas mengenai budaya maritim nusantara, diskusi yang dipandu oleh Helmy Ayuradi ini, juga membahas persoalan-persoalan terkini terkait isu-isu kemaritiman, seperti persoalan kemiskinan nelayan, reklamasi, penggusuran nelayan, kerusakan ekosistem laut, perompakan, illegal fishing, imigran gelap, geopolitik kawasan, dan berbagai hal menyangkut agenda-agenda pembangunan maritim Indonesia.

Dalam uraiannya mengenai proses penulisan buku ini, Bayu mengungkapkan pentingnya melakukan dokumentasi atas berbagai macam tradisi masyarakat nusantara yang menjadi manifestasi dari eratnya hubungan antara masyarakat nusantara dengan laut. Dengan demikian, ada proses akademik yang bisa berguna untuk memperkuat klaim bahwa Indonesia memang memiliki modalitas budaya maritim yang kongkrit. Selain itu Bayu juga mengungkapkan bahwa sosiologi maritim yang dikembangkan di UNHAN akan diarahkan untuk berkontribusi terhadap upaya-upaya pengatasan persoalan keamanan maritim yang saat ini dihadapi oleh Indonesia. “Dengan cara yang sedemikian, produksi pengetahuan di UNHAN diharapkan bisa berkontribusi terhadap persoalan yang dihadapi oleh masyarakat dan negara”, pungkas Bayu.

Diskusi yang ditutup dengan acara buka puasa bersama ini, dihadiri oleh berbagai kalangan, dari mahasiswa pasca sarjana IPB, aktivis mahasiswa, penggiat lembaga swadaya masyarakat, dan peneliti bidang kemaritiman. Kegiatan yang dilakukan di Café Maradeka, Bogor (6/11) rencananya akan dilakukan secara berkala dengan menghadirkan para penulis buku dengan berbagai macam tema.

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR