Janji Ekonomi ‘Meroket’ Jokowi Masih Jauh

Lintas7.Com
Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini /Lintas7.COM

LINTAS7.COM – Fraksi PKS melakukan evaluasi kinerja Pemerintahan Jokowi-JK, jelang akhir tahun 2017.

Seperti diketahui, Pemerintahan Jokowi-JK pada awal memerintah memberikan harapan dan optimisme bahwa ekonomi akan meroket di tahun kedua dan seterusnya.

Tapi, Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini menilai, dalam evaluasi Fraksi PKS janji ‘ekonomi meroket’ tersebut dinilai masih ‘jauh panggang dari api’.

Pasalnya, Pertumbuhan ekonomi masih bergerak rata-rata di bawah lima persen per tahun. Angka tersebut jauh dari target pemerintah, dalam RPJMN 2015-2019 sebesar 7 persen per tahun.

“Kita apresiasi sejumlah capaian positif pemerintah antara lain pada percepatan pembangunan infrastruktur, meski demikian kita tidak boleh abai pada rendahnya capaian ekonomi secara umum terutama dalam aspek fundamental kesejahteraan rakyat,” terang Jazuli di gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (11/12/17).

Oleh karena itu, ia melihat, kurang maksimalnya pertumbuhan ekonomi dikhawatirkan memengaruhi kemampuan pemerintah menekan persoalan sosial, seperti kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan pendapatan.

Terlebih, jumlah penduduk miskin melonjak pada Maret 2017 namun, penyerapan tenaga kerja rendah.

“Pemerintah sayangnya mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat. Satu yang paling nyata adalah penaikan harga-harga barang-barang yang diatur pemerintah, seperti bbm, listrik, dan biaya-biaya administrasi seperti pengurusan STNK, dan biaya-biaya lain termasuk kebijakan perpajakan yang memberatkan. Akibatnya, ekonomi masyarakat pun tergerus oleh inflasi, terutama penduduk 40 persen terbawah. Sementara itu penduduk ekonomi menengah mulai menahan belanja, yang tergambar dari lonjakan simpanan di sektor perbankan,” ungkapnya.

Belum lagi, masalah fiskal yang dinilainya turut memunculkan kekhawatiran karena tingginya defisit.

Padahal, tambahnya, Indonesia baru saja memeroleh investment grade sebagai apresiasi terhadap pengelolaan fiskal sehat.

“Tantangan sektor fiskal mengarah pada sulitnya menggenjot pendapatan di tengah-tengah belanja yang terus melonjak. Hal ini menyebabkan kenaikan utang yang cukup tinggi, sehingga membebani keuangan pemerintah ke depan,” tambahnya.

Untuk itu, Jazuli berharap di sisa pemerintahan Jokowi-JK yang tinggal dua tahun akan ada perbaikan signifikan.

“Tahun 2018, ekonomi global diproyeksi membaik dan diharapkan dapat berdampak positif bagi ekonomi nasional. Kekuatan ekonomi masih bertumpu pada konsumsi rumah tangga. Stimulus berupa pesta demokrasi secara serentak menjadi bagian yang tidak terpisah dari optimisme pencapaian pertumbuhan ekonomi 2018. Namun demikian, pemerintah diharapkan tidak mengintervensi ekonomi dengan kenaikan harga-harga barang, yang berpotensi menekan daya beli,” pungkasnya. (*)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR