Jangan Jadikan Pilgub DKI Sebagai Celah untuk Merusak Persatuan Bangsa

Pilkada
Pilkada Serentak/istimewa

LINTAS7.COM – JAKARTA – Jelang Pilkada DKI Jakarta 2017 suasan di Jakarta terasa sangat panas. Bahkan semakin terasa panas setelah ratusan ribu umat islam berunjuk rasa meminta calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama.

Lepas dari aksi Bela Islam pada 4 November itu, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GPF) MUI akan kembali menggelar aksi Bela Islam jilid III menuntut Ahok ditahan dan mundur dari pencalonan Gubernur DKI Jakarta.

BACA JUGA : 

Menyikapi panasnya Pilkada DKI saat ini, Ketua DPR RI Ade Komarudin (Akom) menghimbau, agar tidak menjadikan Pilgub DKI sebagai celah untuk merusak persatuan bangsa.

Pasalnya, kata dia, persatuan bangsa terlalu mahal dikorbankan hanya demi kepentingan politik di Pilgub DKI.

“Jangan jadikan Pilgub DKI sebagai celah untuk merusak persatuan bangsa. Persatuan bangsa terlalu mahal untuk dikorbankan hanya demi kepentingan politik di Pilkada DKI,” ujarnya, Jakarta, Senin (21/11/16).

Apabila konflik itu terus terjadi dan menjadikan Pilkada DKI sebagai pemicu rusaknya persatuan bangsa, maka itu ia menilai, lebih baik Pilkada DKI ditiadakan saja.

“Ekstremnya saya katakan bila perlu bubarkan Pilkada Jakarta kalau menghancurkan bangsa ini. Bisa kok kalau hanya Pilkada Jakarta buat negara ini harus terkoyak koyak, Indonesia bukan DKI Jakarta,” ungkapnya.

Sebab, ia mengaku, merasa sedih jika persatuan dan kesatuan bangsa dikorbankan hanya karena salah satu calon gubernur DKI Jakarta yang dinilai sering melontarkan ucapan yang tidak etis dan buruk.

“Saya sedih kalau persatuan Indonesia dikorbankan hanya karena Pilkada Jakarta yang kebetulan punya calon yang punya mulutnya tidak masuk kelas, tidak sekolah maksudnya. Yang lainnya masuk, mulutnya disimpan di loker, itu yang sesungguhnya. Itu masalahnya,” tegas Akom.

Diakuinya juga bahwa salah satu calon itu cenderung mengumbar kesombongan dalam setiap ucapannya.

“Ini bukan soal agama, kalau dilihat dari latar belakangnya, hanya kita tidak boleh sombong, mulut kita harus dijaga, dan hati kita harus baik. Mungkin karena didorong oleh kesombongan,” katanya.

Oleh karena itu, Akom meminta, kepada wartawan parlemen untuk tidak memberitakan dan mempromosikan konflik, termasuk soal kasus penistaan agama. Dia berharap media massa membantu menciptakan situasi damai dan kondusif serta tidak menonjolkan pemberitaan yang dapat memecah belah.

“Saya berulang ulang katakan sudah tahu negara ini sigap mengencangkan ikat pinggang, di berbagai negara kena ancaman terorisme, iklim yang ekstrem, bahaya narkoba, konflik perang karena radikalisme, bahaya narkoba dan melemahnya ekonomi dunia. itu kait mengait dan itu harus membuat kita solid,” terang dia.

“Untuk soliditas bangsa adalah peran wartawan yang memberitakan agar susana perbedaan cari titik temu untuk cari titik temu, tidak menonjolkan perbedaan tapi menonjolkan persamaan dari perbedaan,” pungkasnya.(*)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR