Belajar Dari Kanda Akom

Syarul
Syarul Darsono/L7COM

LINTAS7.COM – Ade Komarudin (Akom) merupakan salah satu kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat yang karirnya sedang melejit di kanca nasional. Tak lama setelah resmi menduduki kursi nomor 1 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), dirinya ramai diperbincangkan saat berani mencalonkan diri sebagai ketua umum Partai Golkar di Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub).

Meski akhirnya Setya Novanto yang secara resmi terpilih sebagai Ketua Umum Golkar, tapi banyak pengamat yang justru menyebut bahwa Akom adalah bintang yang sesungguhnya dalam Munaslub. Hal tersebut lantaran sikap Akom yang memilih untuk mengundurkan diri pada putaran pertama meskipun dirinya memiliki kesempatan melawan Setya Novanto di putaran kedua.

BACA JUGA : TNI Antisipasi Paham Komunis

Akom menyadari banyak peserta Munaslub yang mendukungnya saat berhadapan dengan Setya Novanto di putaran kedua nantinya, tapi Akom tetap memilih mundur. Akom enggan head to head dengan Setya Novanto. Langkah tersebut diambil Akom demi mencegah Partai Golkar dari pertarungan yang lebih keras. Karena dimungkinkan akan muncul partai sempalan akibat kekecewaan dari pihak yang kalah dalam perebutan ketua umum. Artinya, Akom lebih memilih mundur demi persatuan Partai Golkar.

Akom banyak belajar dari Munaslub sebelumnya. Bukti nyata perpecahan bisa dilihat dari kemunculan Partai Gerindra, Partai Hanura, dan Partai Nasdem pasca Munaslub Partai Golkar di tahun 2004 dan 2009.‎ Sikap kedewasaan Akom dinilai penting bagi keberlangsungan partai Pohon Beringin itu.

Kedewasaan Akom dalam berpolitik tentunya bukan diperoleh tanpa proses yang panjang. Akom terlahir dari rahim HMI, yang hari ini dikenal sebagai organisasi mahasiswa yang arogan. Hal tersebut nampak dari fenomena vandalisme kader HMI yang secara jelas bisa dilihat oleh masyarakat luas. Contohnya, prosesi Kongres Pekanbaru yang rusuh, Pelantikan PB HMI yang memakan korban luka-luka, dan yang terkini, pengrusakan gedung KPK saat unjuk rasa menuntut Saut Situmorang.

Aksi vandalisme tersebut meluap akibat kurangnya rasa kedewasaan dalam berorganisasi. Sikap merasa besar dan jumawa menjadi salah satu faktor pendukung aksi vandalisme. Bahkan banyak kader HMI yang belum bisa apa-apa, tapi gayanya bak politisi besar.

Tensi politik di tubuh HMI begitu tinggi. Setiap ada kontestasi pergantian ketua umum, selalu saja ada polarisasi. Mungkin bagi sebagian orang, polarisasi itu wajar adanya. Polarisasi bisa dimaknai secara positif, yakni sebagai ajang perlombaan antar regu menuju kebaikan atau adu skill. Tapi, polarisasi akan berubah menjadi monster apabila tidak diimbangi oleh rasa kedewasaan. Tanpa kedewasaan, polarisasi hanya akan menjadi jurang pemisah sekaligus bom waktu yang mengancam keberlangsungan HMI.

Dengan melihat gaya kepemimpinan Kanda Akom -sapaan akrab Akom di HMI-, sudah selayaknya kader HMI mampu melihat, merenungi, dan menghayati cerminan sikap negarawan yang ada dalam diri Ade Komarudin.(*)

Penulis : Syahrul Darsono (Kader HMI KOMFUF Cabang Ciputat)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR